Wednesday, February 25, 2009

Tamu dari Jerman (1998)

Pada tahun 1998, ketika kami tinggal di Pematang Siantar, kami kedatangan 1 rombongan tamu dari Jerman. Istriku mempunyai seorang teman di Jerman yang merupakan petinggi suatu bank. Dia sudah pernah datang sebelumnya ke Indonesia. Beberapa tahun kemudian dia datang lagi dan membawa 1 rombongan staff bank ke Indonesia. Mereka datang berkunjung ke rumah kami. Dan tentu saja menimbulkan kehebohan di lingkungan rumah kami. Untungnya mereka membawa hadiah untuk anak-anak sehinga anak-anak tetangga juga mendapat hadiah.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sehingga aku "Yes" dan "No" saja. Dulu kalau aku ingin belajar bahasa Jerman, istriku selalu berkata : 1 kata 50 Rupiah!
Wah! Jadi aku malas belajar.
Akhirnya ketika istriku ingin aku belajar bahasa Jerman, malah aku yang ngak mau.
Sekarang aku ingin, tapi istriku tak punya waktu untuk mengajariku. Aku merasa ketinggalan. Soalnya anak-anakku sudah beberapa bulan ini kursus privat bahasa Jerman. Bisa-bisa istri dan anak-anakku berbicara bahasa Jerman dan aku tak mengerti apa-apa!
Perlukah kita mempelajari bahasa asing? Sangat perlu. Apalagi bila hidup di Jakarta ini. Seperti ketinggalan kalau tidak menguasai salah satu bahasa asing. Bagaimana menurut Anda?



No comments:

Post a Comment